Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Ditulis Oleh Zaldi Es

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah:
“Filsafat Pendidikan Islam”
BAB I
PENDAHULUAN
Makalah yang kami susun ini, secara general mencoba untuk mengkaji salah satu unsur proses pendidikan islam, yaitu mengenai kurikulum dalam pendidikan islam. Dalam uraian yang akan kami bahas dalam makalah ini yaitu ; pentingnya kurikulum dalam kehidupan masyarakat, Negara, dan bagi kedua orang tua sebagai orang peratama dalam melaksanakan pendidikan islam, dan yang menjadi salah satu indicator yang sangat penting didalamnya, dan juga membahas tentang konsep kurikulum modern dan pendidikan islam, prinsip-prinsip pendidikan umum yang menjadi dasar kurikulum pendidikan islam, aspek-aspek kuruikulum, asas-asas kurikulum dan dasar-dasar kurikulum dalam pendidikan islam.
Sedangkan pembahasan dalam masalh ini bersifat ringkas dan praktis, sekedar menyebutkan dan membahas masalah yang sangat penting dan mengkhususkan pada pembahasan mengenai dasar-dasar kurikulum dan prinsip-prinsip umum dalam kurikulum. sedang sedangkan tujuan pokok dalam makalah ini adalah memberi pengrtian ringkas singkat dan jeneral tentang sifat-sifat filsafal kurikulum dalam pendidikan islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Kurikulum Dalam Pendidikan Islam
Kurikulum berasal dari kata curriculum yang berarti bahan pengajaran. Sebenarnya banyak pendapat mengenai kurikkulum ini, tetapi kami mengamil yang lebih mudah dipahami dan yang sudah lumrah bahwa kurikulum diartikan bahan pengajaran. Dan juga ada yang berpendapat bahwa kurikulum berasal dari bahasa prancis currier yang berarti berlari. Selanjutny kurikulum menurut istilahnya adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan tertentu.
Menurut Crow, kurikulum adalah rancangan pengajaran yang berisi sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis sebagai syarat untuk menyelesaikan sauatu program pendidikan tertentu. Sementara kurikulum dalam zaman modern ini mempunyai makna sejumlah kekuatan. Factor-faktor pada lingkungan pengajaran pendidikan oleh sekolah bagi murid-muridnya baik didalam maupun diluar sekolah, dan sejumlah pengalaman yang lahir dari interaksi dengan kekuatan-kekuatan dan factor-faktor itu. Sedangkan pengertian kurikulum pendidikan islam dalam bahasa arab adalah manhaj (jalan terang) yang dilalui oleh pendidik atau guru dengan orang-orang yang dididik atau dilatihnya untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mulia mereka.
B.Ciri-ciri Kurikulum dalam Pendidikan Islam
Untuk memahami kuriulum dalan dunia pendidikan islam, kita tidak cukup hanya mengetehui pengertian urikulum saja, tetapi kita juga perlu memahami cirri-ciri dan eistimewaan-keistimewaan kurikulum pendidikan islam yang tentunya juga menjelaskan sebagian sifat-sifat kurikulum dalam pendidikan islam.
Diantara cirri-ciri umum kurikulum pada pendidikan islam adalah:
1.menonjolkann tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuan, kandungan, metode, dan tekniknya yang bercorak agama.
2.meluas cakupan dan menyeluruh kandungannya. Disamping itu kurikulum pendidikan islam juga memperhatikan dan membimbing terhadap segala pribadi pelajar baik dari segi intelektual, psikologis, social dan spiritualnya. Disamping menaruh perhatian kepada pengembangan dalam aspek spiritual bagi pelajar, dan membina aqidah yang benar, dan menguatkan hubungannya dengan tuhan, kurikulum pendidikan islam juga menaruh perhatian dalam pengembangan akal pelajar dan mengembangkan sesuatu yang berkaitan dengan akal.
3.keseimbangan yang relatif diantara kandungan-kandungan kurikulum dari barbagai aspek ilmu pengetahuan. Menghubungkan keseimbangan ini dengan sifat relatif karena kita telah tahu bahwa tidak ada keseimbangan yang mutlak pada kurikulum pengajaran, tapi tidak pada pendidikan islam atau pendidikan yang lain.
4.bersikap menyeluruh dalam meneta mata pelajaran yang diperlikan anak didik.
5.kurikulum yang disusun selalu disesuaikan dengan bakat dan minat anak didik. Dari sisi lain pendidikan islam juga bersifat dinamis dan sanggup menerima perkembangan dan perubahan apabila dipandang perlu.
C.Prinsip-prinsip kurikulum pendidikan islam
Setelah kita mengetahui berbagai ciri-ciri kurikulum pendidikan islam, untuk melengkapinya maka perlu kita tau prinsip-prinsip umum yang menjadi dasar kurikulum pendidikan islam dan dasar-dasar serta sumber yang menjadi tumpuan kurikulum pendidikan islam.
Prinsip-prinsip umum yang menjadi dasar dari kurikulum pendidikan islam adalah sebagaimana berikut :
1.prtautan sempurna dengan agama, termasuk ajaran-ajaran dan nilai-nilainya. Oleh karena itu setiap yang berkaitan dengan kurikulum, termasuk filsafat, tujuan-tujuan, kandungan-kandunga, metode pengajaran, dan hubungan-hubungan yang berlaku dalam lembaga pendidikan islam harus berdasarkan pada agama dan akhlak islam, harus pula harus terisi dengan jiwa agama islam.
Dan prinsip-prinsip ini harus dijaga dan dipelihara bukan hanya tehadap ilmu-ilmu syariat dan pengajian islam saja, tetapi pada segala yang terkandung dalam kurikulum termasuk ilmu akal, dan segala macam kegiatan dan pengalaman, sebab semuanya harus berjalan selaras dengan agama dan akhlak yang mulia.
2.menyeluruh pada tujuan-tujuan kurikulum yang meliputi segala aspek pribadi peserta didik. Oleh karena itu apabila segala tujuan harus meliputi segala aspek kepribadian peserta didik, maka segala kandungannya harus meliputi segala yang berguna untuk membina pribadi peserta didik.
3.keseimbangan relatif antara tujuan dan kandungan kurikulum. Kalau kurikulum memberi perhatian besar kepada perkembangan spiritual dan ilmu-ilmu syariat , maka aspek spiritual itu tidak boleh melampaui aspek penting yang lain dalam kehidupan.
4.kurikulum berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan, dan kebutuhan peserta didik. Tidak hanya itu, kurikulum pendidikan islam juga berkaitan dengan alam sekitar, fisik dan social dimana peserta didik itu hidup dan berinteraksi untuk memperoleh pengetahuan, kemahiran, pengalaman, danjuga sikapnya.
5.pemeliharan perbedaan individu diantara para peserta didik dalam bakat, minat, kemampuan, kebutuhan, dan segala masalahnya. Disamping itu juga menjaga kelainan kelamin diantara alam sekitar danmasyarakat. Karena semua ini dapat membuahkan kesesuaian kurikulum dengan segala yang dibutuhkan oleh peserta didik dan masyarakat, dan juga menambah segala fungsi dan gunanya.
6.menerima perkembangan dan perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat. Islam yang menjadi sumber falsafah, prinsip-prinsip, dasar-dasar kurikulum. Oleh karena itu yang berperan penuh dalam pengambangan dan merubah kurikulum pendidikan islam ini adalah semua umat islam apabila dipandang adanya maslahat bagi masyarakat kalau perubahan ini dilaksanakan.
7.berkaiatan dengan berbagai mata pelajaran dengan pengalaman-pengalaman dan aktifitas-aktifitas yang terkndung dalam kurikulum. Kurikulum pendiikan islam sangat tidak setuju pada kurikulum yang tidak tersusun mata pelajaran, dan pengalamannya.
D.Aspek-aspek Kurikulum Pendidikan Islam
1.tujuan pendidikan yang akan dicapai oleh kurikulum itu.
2.pengetahuan, ilmu-ilmu, data, aktivitas-aktivitas, dan pengalaman yangmenjadi sumber terbentuknya kurikulum.
3.metode dan cara mengajar dan bimbingan yang diikuti oleh pesrta didik untuk mendorong mereka kearah yang dikehendaki oleh tujuan yang dirancang.
4.metode dan cara penelitian yang digunakan dalam mengukur hasil proses pendidikan yang dirancang dalam kurikulum.
E.Dasar Umum Yang Menjadi Landasan Kurikulum Pendidikan Islam
Dengan penjelasan yang kami utaraka dimuka, maka bias ditarik sebuah kesimpulan, sejumlah dasar umum bagi krikulum pendidikan islam yaitu:
a)Agama
Mengenai dasar yang pertama ini, maka segala sistem yang ada dalam kehidupan masyarakat termasuk sistem pendidikan harus meletakkan dasar falsafah, tujuan, dan kurikulumnya pada agama Islam atau syariat Islam dan sesuatu yang terkandung didalamnya. Sedangkan segala sember dari semuanya adalah Kitab Allah dan Sunnah Nabi SAW. Setelah kedua sumber ini maka barulah muncul beberapa sumber yang lainnya yang berlandasan pada keduanya, baik itu menguraikan apa yang terkandung didalamnya atau memperluas hokum-hukum furu’ dari dasar-dasar dan hukum-hukum umum yang terkandung pada keduanya.
Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan-tujuan ini, maka kurikulum dalam pendidikan islam itu harus menyeluruh kandungan-kandungannya, melebihi ilmu-ilmu agama dan alat-akatnya. Dari uraian tersebut kurikulum pandidikan islam harus mengandung segala ilmu yang bermanfaat dalam agama dan dunia. Islam tidak menghalangi seseorang untuk mempelajari ilmu manapun yang itu berguna, selama kajian itu diterapkan dalam dalam akidah dan akhlak.
b)Falsafah
Suatu sistem yang mempunyai watak yang berdiri sendiri dan cirri-ciri yang khas yang memperoleh wujudnya dari wahyu Tuhan, bimbingan Nabi yang utama, dan peninggalan pemikiran Islam yang benar disepanjang zaman dan waktu.
c)Psikologis
Disamping dua dasar kurikulum pendidikan islam itu, adala lagi dasar ketiga yang sangat berkaitan dengan perkembangan peserta didik, kematangan bakat-bakat, intelek tual, emosi, kebutuhan-kebutuhan, keinginan dan minat, kecakapan yang bermacam-macam, dan pemikiran merekan yaitu dasar psikologis. Semua itu tidak diabaikan oleh kurikulum pendidikan Islam dan metode-metode pengajaran. Bukan hanya itu, para pendidik selalu mengajak dan menghargai hal itu dalam menentukan kurikulum pendidikan Islam yang sesuai dengan peserta didik.Sedangkan dalam kurikulum pedidikan Islam sendiri, juga mengajak dan menggalakkan dalam membantu perkembangan peserta didik yang sesuai dengan kematangan dan bakatnya masing-masing.
Dalam pemikirn Islam tidak melarang mendalami dan mengkaji psikologi ini pada peserta didik dinegeri Islam mapun, selagi sesui dengan pertimbangan-pertimbangan dan tujuan-tujuan kurikulum, kandungannya, serta susunan dan pelaksanaannya.
d)Sosial
Social juga menjadi dasar utama dalam kurikulum pendidikan Islam yang mengandung cirri-ciri masyarakat Islam dalam pendidikan dan dan kebudayaannya yang bersifat umu atau khusus. Dari penjelasan tersebutu diatas maka jelaslah bahawa kurikulum pendidikan islam itu diterapkan dalam kerangka masyarakat yang memiliki identitas khas dan kepribadian budayanya. Oleh karena itu kurikulum pendidikan Islam berkewajiban untuk menguatkan hubungannya dengan masyarakat dan kebudayaannya dalam menentukan tujuan-tujuannya, penyusunan kurikulumnya, dan metode-metode pengajarannya.
Sedangkan tugas dari kurikulum pendidikan Islam yang berkaitan dengan social, yaitu turut serta dalam proses pemasyarakatan bagi peserta didik, penyesuaian mereka dengan masyarakat Islam dimana mereka hidup, memperoleh kebiasaan dan sikap yang baik pada masyarakatnya, serta cara berfikir dan tingkah laku yang diinginkan, cara bergaul yang sehat, sikap kerjasama dan menghargai tanggungjawab.
Inilah yang menjadi dasar utama kurikulum pendidikan islam. Dari penjelasan tersebut maka jelaslah bahwa kurikulum pendidikan islam telah mempertimbangan dalam segala aspek baik itu dalam tujuan-tujuan dan metode-metodenya.
F.Tujuan Kurikulum Pendidikan Islam
Bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum pendidikan islam pada masa sekarang ini nampaknya semakin luas. Hal tersebut karena dipicu oleh kemajuan beberapa ilmu pengetahuan dan kebudayaan , disamping itu juga karena bertambahnyha beban yang harus ditanggung oleh pihak sekolah.
Oleh kerena tuntutan perkembangan yang sedemikian rupa, maka para perancang kurikulum pendidikan Islam memperluas cakupan yang dikandung oleh kurikulum tersebut, antara lain yang berkenaan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh proses belajar mengajar.
Berdasarkan penjelasan diatas maka kurikulum pendidikan Isalam mempnyai tujuan untuk mencapai perkembangan yang menyeluruh dan perpadu dengan kepribadian para peserta didik. Disamping itu kurikulum pendidikan Islam juga mempunyai tujuan untuk memberi sumbangan dalam perkembangan masyarakat Islam, memperkuat keprinbadian islam yang berdiri sendiri.
BAB III
KESIMPULAN
Kegemilangan pendidikan Islam memandang kepada kurikulum sebagai alat untuk mendidik generasi muda dengan baik dan menolong mereka untuk membuka dan mengembangkan kesediaan, bakat, minat, dan keterampilan mereka yang bermacam-macam, serta menyiapkan mereka untuk menjalankan hak-hak dan kewajiban-kewajibannya.
Tidak lepas dari tujuan umum dalam pendidikan islam, bahwa kurikulum pendidikan islam juga sangat berperan dalam mendidik para generasi muda khususnya dalam keagamaan dan akhlak yang mulia, agar terbentuk para generasi muda yang tidak hanya punya intelektual yang tinggi tetapi tidak bermoral.
Sementara pada zaman modern ini kurikulum pendidikan Islam telah berkembang untuk membentuk manusia yang sehat dan kuat jasmaninya dan mementingkan kecerdasan otak, berlkembang menjadi sejumlah pengalaman pendidikan, yang difasilitasi oleh berbagai sekolah dengan tujuan menolong berkembangan secara menyeluruh dalam segala bidang yng diperlukan dalam kehidupan sehari-hari atau dihari ahir nanti.
DAFTAR PUSTAKA
Nasution, S., Pengembangn Kurikulum Pendidikan, bandung: Citra Adirya Bakti, 1991.
Crow and Crow, Pengantar Ilmu Penddikan, Yogyakarta: Rake Sarasin, 1990, edisi III.
Mc. Neil, John, Kuikulum: Sebuah Pengantar Komprehensip (terj. Subandi), Jakarta: Wirasari, 1988.
Sulaiman, Qurah, Hussein, al-Usul al-Tarbiyah Fi Bina Al-Manahij, kaherah: dar E1 Maarif, 1975.
Prof. Dr. H. Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Media Pratam, 2005.
Prof. Dr. Omar Muhammad Al-Toumy Al-syaobany, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang 1975.
Jalaluddin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Raja Grofindo Persada, 1990
Ditulis Oleh Zaldi Es
Jakarta - Meskipun Mohammad Natsir dikenal sebagai seorang pemimpin politik dan tokoh pergerakan sosial dan keagamaan Islam ia sebenarnya mempunyai perhatian yang besar kepada dunia pendidikan. Keterkaitannya kepada bidang ini agaknya menjadi pendorong utama mengapa ia akhirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi selepas menyelesaikan jenjang pendidikan AMS di Bandung. Padahal Natsir mempunyai peluang untuk itu dengan beasiswa Pemerintah Hindia Belanda.
Keterlibatan Natsir dalam aktivitas pendidikan telah dimulai ketika ia aktif menjadi murid dan pengikut setiap Ustadz A Hasan di Bandung. Kemudian keterlibatannya yang intensif pada Organisasi Persatuan Islam.
Di masa mudanya di samping berdakwah ia aktif menulis tentang pendidikan Islam. Ide dan gagasan tentang pendidikan ini kadang ditulisnya sendiri, dan kadang didiskusikan dengan teman-temannya. Setelah menamatkan pendidikan di Bandung Natsir memilih karier menjadi guru di lembaga "Pendidikan Islam".
Tentu pekerjaan ini tidak banyak memberi kesejahteraan ekonomi bagi kehidupan pribadi dan keluarga. Bahkan, ia dan keluarga harus banyak berkorban demi menghidupkan sekolah agama yang didirikan di Bandung di zaman penjajahan itu.
Melalui pendidikan Islam itu Mohammad Natsir dan rekan-rekannya mulai merintis sistem pendidikan yang menjurus kepada tujuan yang dirumuskan olehnya. Semua ilmu dan pelajaran yang diberikan di sekolah Pemerintah Belanda juga diberikan dalam sekolah ini. Hanya saja di pendidikan Islam diterapkan agar murid-murid harus lebih aktif dari sekedar menghafal. Tidak pasif menampung dari guru saja sepreti beo.
Pelajaran agama diberikan sebagai mata pelajaran wajib, bersembahyang Jumat di gedung sekolah bersama-sama, sering kali yang menjadi khatib adalah murid kelas tertinggi Kweekschool. Selain itu, pelajaran kerajinan tangan, berkebun, hingga piano juga diajarkan dalam pendidikan Islam. Dengan pelajaran tersebut Mohammad Natsir berharap akan menumbuhkan inisiatif dan timbul keberanian menciptakan sesuatu di kalangan murid-murid.
Sementara untuk guru-guru diharapkan dapat mengetahui watak masing-masing murid. Belakangan lembaga pendidikan Islam yang didirikan di Bandung ini berkembang pesat. Sampai akhirnya memiliki beberapa cabang di Bogor, Cirebon, Jatinegara, Tanjung Priok, bahkan di pulau Bangka dan Kalimantan.
Salah satu konsep pendidikan yang terkenal dari Mohammad Natsir adalah konsep pendidikan yang integral, harmonis, dan universal. Konsep ini lebih jelas ditekankan dalam ceramah Mohammad Natsir di ISC Yogya di tahun 1955.
Konsep pendidikan tersebut beberapa di antaranya dipublikasikan dalam bentuk tulisan-tulisan di berbagai majalah dan surat kabar yang beredar saat itu, dan dalam konteks yang berbeda-beda. Di samping itu juga diceramahkan.
Selain daripada itu konsep pendidikan tersebut merupakan reaksi serta refleksi Mohammad Natsir terhadap kenyataan historis-sosiologis yang ditemui di tengah Masyumi. Konsep itu sendiri secara empiris ternyata tidak ditemukan dalam masyarakat Islam di mana-mana. Tidak sesuai dengan konsep pendidikan ideal yang oleh Mohammad Natsir sendiri disebut sebagai "Islamietisch Paedagogisch Ideal".
Kondisi yang dimaksud tersebut menurutnya merupakan akibat dunia Islam sekian lama berada dalam alam kegelapan karena didominasi oleh pemikiran tasawuf dan berada di dalam penjajahan Barat selama berabad-abad. Tak heran apabila konsep pendidikan yang diterapkan oleh sekolah-sekolah pada waktu itu, baik sekolah pesantren maupun sekolah milik Pemerintah Belanda, adalah konsep pendidikan yang parakoial, diferensial, dikotomisi, dan disharmonis. Bukan konsep yang universal, integral, dan harmonis.
Dampak dari penjajahan kebudayaan yang dilakukan oleh penjajahan Barat dirasakan juga membawa kebiasaan dalam umat Islam untuk berpikir secara antagonistik. Yakni dengan membuat garis demarkasi yang cukup jelas antara pendidikan umum dengan pendidikan agama yang diwakili dalam sistem sekolah madrasah atau pesantren. Bahkan dikotomi antara pendidikan umum dan pendidikan agama ini berlanjut sampai sekarang.
Antagonisme dikotomi yang semacam inilah yang dihadapi oleh Mohammad Natsir tahun 1920-an, dan yang mendorong beliau mengambil keputusan "nekad" yaitu tidak meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi. Walau memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan Rschtshogeschool di Betawi atau ke Sekolah Tinggi di negeri Belanda dengan beasiswa. Ia lebih memilih menjadi jurnalis di "Pembela Islam" dan menyuarakan ide-ide atau konsep-konsep pendidikan idealnya.
Dan tiga tahun kemudian, 1932, Mohammad Natsir membuka sebuah kursus sore yang menjadi janin lembaga pendidikan Islam seperti yang dicita-citakannya. Dalam pendidikan Islam ini Mohammad Natsir menggabungkan dua sistem, yaitu sekolah yang bernafaskan Islam dengan "cita pendidikan yang Islami" dengan sistem kurikulum dan manajemen Modern (Barat).
Lebih jauh tentang konsep pendidikan yang integral Mohammad Natsir dalam
tulisan-tulisannya di Panji Islam dan Pedoman Masyarakat sejak tahun 1938 maupun melalui ceramah-ceramahnya jelas menggambarkan pergulatan yang diakibatkan oleh adanya dualisme dan dikotomi dari sistem pendidikan yang dihadapi umat Islam, khususnya di Indonesia.
Sering kali pula kenyataan ada yang menganggap bahwa didikan Islam itu ialah didikan Timur. Didikan Barat ialah lawan dari didikan Islam. Boleh jadi, ini reaksi terhadap didikan "kebaratan" yang ada di negeri kita, yang memang sebagian dari akibat-akibatnya tidak mungkin kita menyetujuinya sebagai umat Islam. Akan tetapi coba kita berhenti sebentar dan bertanya: "apakah sudah boleh kita katakan bahwa Islam itu anti-Barat dan pro-Timur, khususnya dalam pendidikan!"
Mohammad Natsir menekankan bahwa memang tidak ada dikotomi antara "pendidikan agama" dengan "pendidikan umum". Sebagai dua jenis kelembagaan pendidikan dengan menekankan kurikulum yang berbeda sebagaimana yang telah berjalan sejak zaman penjajahan Belanda dahulu.
Baginya yang memandang Islam dengan visi seorang modernis yang tidak mempertentangkan "dunia" dengan "akhirat". Maka semua jenis pendidikan itu hendaklah bertumpu kepada suatu dasar maupun tujuan tertentu.
Konsepsi pendidikan yang integral, universal, dan harmonis dalam pandangannya tidak mengenal dikotomi antara pendidikan agama dengan pendidikan umum sehingga mewujudkan adanya keterpaduan dan keseimbangan. Semua itu dasarnya adalah agama. Apa pun bidang dan disiplin ilmu yang dimasukinya.
Rulli Nasrullah
Jalan Pancawarga I No 2 RT 03/01
Cipinang Besar Selatan Jakarta Timur
kangarul@gmail.com
08128749407
Keterlibatan Natsir dalam aktivitas pendidikan telah dimulai ketika ia aktif menjadi murid dan pengikut setiap Ustadz A Hasan di Bandung. Kemudian keterlibatannya yang intensif pada Organisasi Persatuan Islam.
Di masa mudanya di samping berdakwah ia aktif menulis tentang pendidikan Islam. Ide dan gagasan tentang pendidikan ini kadang ditulisnya sendiri, dan kadang didiskusikan dengan teman-temannya. Setelah menamatkan pendidikan di Bandung Natsir memilih karier menjadi guru di lembaga "Pendidikan Islam".
Tentu pekerjaan ini tidak banyak memberi kesejahteraan ekonomi bagi kehidupan pribadi dan keluarga. Bahkan, ia dan keluarga harus banyak berkorban demi menghidupkan sekolah agama yang didirikan di Bandung di zaman penjajahan itu.
Melalui pendidikan Islam itu Mohammad Natsir dan rekan-rekannya mulai merintis sistem pendidikan yang menjurus kepada tujuan yang dirumuskan olehnya. Semua ilmu dan pelajaran yang diberikan di sekolah Pemerintah Belanda juga diberikan dalam sekolah ini. Hanya saja di pendidikan Islam diterapkan agar murid-murid harus lebih aktif dari sekedar menghafal. Tidak pasif menampung dari guru saja sepreti beo.
Pelajaran agama diberikan sebagai mata pelajaran wajib, bersembahyang Jumat di gedung sekolah bersama-sama, sering kali yang menjadi khatib adalah murid kelas tertinggi Kweekschool. Selain itu, pelajaran kerajinan tangan, berkebun, hingga piano juga diajarkan dalam pendidikan Islam. Dengan pelajaran tersebut Mohammad Natsir berharap akan menumbuhkan inisiatif dan timbul keberanian menciptakan sesuatu di kalangan murid-murid.
Sementara untuk guru-guru diharapkan dapat mengetahui watak masing-masing murid. Belakangan lembaga pendidikan Islam yang didirikan di Bandung ini berkembang pesat. Sampai akhirnya memiliki beberapa cabang di Bogor, Cirebon, Jatinegara, Tanjung Priok, bahkan di pulau Bangka dan Kalimantan.
Salah satu konsep pendidikan yang terkenal dari Mohammad Natsir adalah konsep pendidikan yang integral, harmonis, dan universal. Konsep ini lebih jelas ditekankan dalam ceramah Mohammad Natsir di ISC Yogya di tahun 1955.
Konsep pendidikan tersebut beberapa di antaranya dipublikasikan dalam bentuk tulisan-tulisan di berbagai majalah dan surat kabar yang beredar saat itu, dan dalam konteks yang berbeda-beda. Di samping itu juga diceramahkan.
Selain daripada itu konsep pendidikan tersebut merupakan reaksi serta refleksi Mohammad Natsir terhadap kenyataan historis-sosiologis yang ditemui di tengah Masyumi. Konsep itu sendiri secara empiris ternyata tidak ditemukan dalam masyarakat Islam di mana-mana. Tidak sesuai dengan konsep pendidikan ideal yang oleh Mohammad Natsir sendiri disebut sebagai "Islamietisch Paedagogisch Ideal".
Kondisi yang dimaksud tersebut menurutnya merupakan akibat dunia Islam sekian lama berada dalam alam kegelapan karena didominasi oleh pemikiran tasawuf dan berada di dalam penjajahan Barat selama berabad-abad. Tak heran apabila konsep pendidikan yang diterapkan oleh sekolah-sekolah pada waktu itu, baik sekolah pesantren maupun sekolah milik Pemerintah Belanda, adalah konsep pendidikan yang parakoial, diferensial, dikotomisi, dan disharmonis. Bukan konsep yang universal, integral, dan harmonis.
Dampak dari penjajahan kebudayaan yang dilakukan oleh penjajahan Barat dirasakan juga membawa kebiasaan dalam umat Islam untuk berpikir secara antagonistik. Yakni dengan membuat garis demarkasi yang cukup jelas antara pendidikan umum dengan pendidikan agama yang diwakili dalam sistem sekolah madrasah atau pesantren. Bahkan dikotomi antara pendidikan umum dan pendidikan agama ini berlanjut sampai sekarang.
Antagonisme dikotomi yang semacam inilah yang dihadapi oleh Mohammad Natsir tahun 1920-an, dan yang mendorong beliau mengambil keputusan "nekad" yaitu tidak meneruskan pendidikannya ke perguruan tinggi. Walau memiliki kesempatan untuk mengenyam pendidikan Rschtshogeschool di Betawi atau ke Sekolah Tinggi di negeri Belanda dengan beasiswa. Ia lebih memilih menjadi jurnalis di "Pembela Islam" dan menyuarakan ide-ide atau konsep-konsep pendidikan idealnya.
Dan tiga tahun kemudian, 1932, Mohammad Natsir membuka sebuah kursus sore yang menjadi janin lembaga pendidikan Islam seperti yang dicita-citakannya. Dalam pendidikan Islam ini Mohammad Natsir menggabungkan dua sistem, yaitu sekolah yang bernafaskan Islam dengan "cita pendidikan yang Islami" dengan sistem kurikulum dan manajemen Modern (Barat).
Lebih jauh tentang konsep pendidikan yang integral Mohammad Natsir dalam
tulisan-tulisannya di Panji Islam dan Pedoman Masyarakat sejak tahun 1938 maupun melalui ceramah-ceramahnya jelas menggambarkan pergulatan yang diakibatkan oleh adanya dualisme dan dikotomi dari sistem pendidikan yang dihadapi umat Islam, khususnya di Indonesia.
Sering kali pula kenyataan ada yang menganggap bahwa didikan Islam itu ialah didikan Timur. Didikan Barat ialah lawan dari didikan Islam. Boleh jadi, ini reaksi terhadap didikan "kebaratan" yang ada di negeri kita, yang memang sebagian dari akibat-akibatnya tidak mungkin kita menyetujuinya sebagai umat Islam. Akan tetapi coba kita berhenti sebentar dan bertanya: "apakah sudah boleh kita katakan bahwa Islam itu anti-Barat dan pro-Timur, khususnya dalam pendidikan!"
Mohammad Natsir menekankan bahwa memang tidak ada dikotomi antara "pendidikan agama" dengan "pendidikan umum". Sebagai dua jenis kelembagaan pendidikan dengan menekankan kurikulum yang berbeda sebagaimana yang telah berjalan sejak zaman penjajahan Belanda dahulu.
Baginya yang memandang Islam dengan visi seorang modernis yang tidak mempertentangkan "dunia" dengan "akhirat". Maka semua jenis pendidikan itu hendaklah bertumpu kepada suatu dasar maupun tujuan tertentu.
Konsepsi pendidikan yang integral, universal, dan harmonis dalam pandangannya tidak mengenal dikotomi antara pendidikan agama dengan pendidikan umum sehingga mewujudkan adanya keterpaduan dan keseimbangan. Semua itu dasarnya adalah agama. Apa pun bidang dan disiplin ilmu yang dimasukinya.
Rulli Nasrullah
Jalan Pancawarga I No 2 RT 03/01
Cipinang Besar Selatan Jakarta Timur
kangarul@gmail.com
08128749407
